Wabah Chikungunya pertama kali dilaporkan pada tahun 1952 di Tanzania. Untuk Indonesia sendiri, kejadian luar biasa Chikungunya pernah terjadi beberapa kali di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Muara Enim, Bogor, Bandung dan Tegal. Chikungunya mungkin tidak sepopuler demam berdarah. Masalahnya mungkin karena penyakit ini dianggap tidak berbahaya dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan yang spesifik.
Tapi yang perlu menjadi perhatian justru karena vektor pembawanya sama dengan penyakit demam berdarah yaitu nyamuk Aedes aegypti. Artinya, bila suatu daerah terserang wabah Chikungunya, potensi untuk terjadinya wabah demam berdarah juga cukup besar. Coba bayangkan bila ada penderita demam berdarah masuk ke daerah wabah chikungunya tersebut lalu nyamuk Aedes aegypti (yang berada di sana) menghisap darahnya lalu terbang untuk menghisap darah orang lain, kira-kira apa yang akan terjadi.
Para penderita umumnya mengeluhkan nyeri sendi yang hebat bahkan postur tubuh penderita dapat sampai meringkuk karena nyeri sendi yang dialaminya tersebut. Demam tinggi mendadak lebih dari 390C cukup umum terjadi. Ruam seperti bercak merah juga dapat terlihat di lengan dan tubuh. Sakit kepala, warna merah pada konjungtiva mata dan fotofobia ringan adalah gejala lain yang dapat menyertainya. Gejalanya memang dapat menimbulkan kekhawatiran karena terkadang bisa menyerupai kelumpuhan.
Chikungunya pada anak-anak dapat memperlihatkan gejala yang berbeda. Nyeri sendi umumnya tidak terlalu nyata dan berlangsung dalam waktu yang lebih singkat. Ruam juga lebih jarang terjadi. Tetapi pada bayi dan anak kecil, kemerahan pada wajah dan munculnya ruam kemerahan dalam bentuk papel-papel (maculopapular) atau erupsi seperti biduran (urtikaria) dalam waktu yang lebih dini dapat menjadi penanda yang berguna.
Chikungunya disebabkan oleh alphavirus yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Untuk membedakan dengan penyakit demam berdarah, dapat dilakukan tes serologi. Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk Chikungunya dan umumnya penyakit ini akan membaik dengan sendirinya dalam waktu antara 1-7 hari. Pengobatan untuk mengurangi keluhan dapat diberikan, misalnya untuk menurunkan panas tubuh dan mengurangi nyeri sendi. Tapi sebelumnya kita tidak boleh lupa untuk melakukan penapisan terhadap kemungkinan penyakit lain yang lebih berbahaya.
Penyakit Chikungunya memang tidak mematikan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Walau demikian, tidaklah tepat bila kita mengacuhkan wabah Chikungunya karena menganggapnya sebagai wabah yang tidak berbahaya. Wabah Chikungunya dapat merupakan peringatan dini terhadap kemungkinan terjadinya wabah demam berdarah.
Saran penggunaan propolis diamond (PD)
Lihat baris nomor 13 pada tabel praktis penanganan penyakit dengan PROPOLIS DIAMOND
Sumber : Rokhim www.propolisdiamond.com

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Last 50 Posts
Back
Back
Back
Void « Default
Life
Earth
Wind
Water
Fire
Light 